TERAS

Rabu, 30 April 2014

NARASI DAN REALITAS POLITIK



Oleh Tarli Nugroho
Peneliti di Mubyarto Institute, Yogyakarta


“Realitasnya masyarakat kini menginginkan Jokowi.” Kalimat itu sering saya dengar dalam banyak obrolan di kedai kopi, terutama pada jam-jam makan siang. Jika kebetulan meluncur dari mulut orang yang dikenal, saya selalu bertanya, “Apa buktinya kalau masyarakat menginginkan Jokowi?” Jawaban yang disampaikan umumnya sudah bisa ditebak: “Survei-survei politik selalu menempatkan namanya pada posisi pemuncak calon presiden.”

Di luar konteks Jokowi, atau nama-nama lainnya, pernyataan dan jawaban semacam itu selalu mengusik saya. Perkaranya sederhana, karena pernyataan dan jawaban itu sebenarnya menggambarkan hubungan yang tidak searah, sebagaimana diandaikan bahwa realitaslah yang telah memproduksi hasil survei. Benarkah begitu?! Sebab, dari pernyataan dan jawaban yang sama, terdapat juga kemungkinan bentuk hubungan lain, misalnya, hasil surveilah yang sebenarnya telah memproduksi realitas tadi. Atau, kemungkinan lainnya lagi, bahwa sebenarnya terdapat hubungan kausasi sirkuler (circular causation) antara keduanya, dimana realitas dan hasil survei politik sebenarnya bersifat saling mempengaruhi.

Sampai di situ, saya selalu diingatkan pada satu hal yang kadang banyak dilupakan, bahwa dalam bidang apapun, yang disebut sebagai fakta dan/atau data dalam kenyataannya memang selalu tidak bisa berbicara sendiri. Sebab, fakta dan data yang sama pada kenyataannya tak jarang bisa digunakan untuk menyampaikan dua narasi yang berbeda, bahkan yang saling bertolak belakang sekalipun. Oleh karenanya saya sering merasa geli jika ada orang yang selalu menempatkan fakta atau data sebagai senjata pamungkas dalam sebuah diskusi atau perdebatan, dengan andaian bahwa fakta atau data itu mampu berbicara sendiri. Mereka pasti lupa faktor narasi ini, dimana selain fakta dan data yang sama bisa digunakan untuk menyampaikan dua narasi yang berbeda, mereka juga telah melupakan kenyataan bahwa fakta dan data juga sebelumnya dilahirkan oleh sebuah proses naratif. Jadi, obrolan ringan sebagaimana disebut di muka itu sepertinya memang tidak boleh dianggap sederhana.

Jika Marx memperkenalkan distingsi M1 dan M2 dari rantai M-C-M (Money, Commodity, Money), dimana M1 adalah uang (money, M) yang digunakan oleh si kapitalis sebagai modal untuk memproduksi komoditas (commodity, C), dimana selanjutnya komoditas itu akan dijual untuk menghasilkan uang lagi (M2), maka narasi yang bisa merajut fakta, data, dan realita juga sebenarnya berlapis-lapis.

Sederhananya begini. Narasi pertama, sebut saja N1, adalah narasi yang telah melahirkan fakta (F). Dari fakta (F) menjadi data (D), tak sebagaimana yang sering dibayangkan, juga melibatkan proses transformasi naratif, karena secara teoritis data merupakan fakta yang telah mengalami proses seleksi dan penyusunan ulang sedemikian rupa Proses naratif perubahan F menjadi D ini kita sebut saja N2. Jadi, jika data (D) itu kita narasikan kembali, sebagaimana misalnya data-data survei politik dipresentasikan dalam konferensi pers, maka narasi yang disampaikannya, kita sebut saja N3, bisa jadi merupakan narasi yang tak lagi sama dan sebangun dengan N2 dan/atau N1.

Sampai di situ muncul pertanyaan: dari rangkaian tadi, N1-F-N2-D-N3 itu, manakah yang sebenarnya bisa disebut sebagai realitas itu, apakah N1, F, N2, D, ataukah N3?! Persis di sini, relasi antara fakta, data, dan narasi dengan realitas tak lagi sesederhana sebagaimana yang sering dibayangkan.





Film Chaos Theory (2008), yang disutradarai oleh Marcos Siega, barangkali bisa jadi ilustrasi yang mengena atas rantai abstraksi tadi. Frank Allen (diperankan oleh Ryan Reynolds), seorang penceramah profesional dalam bidang manajemen waktu, suatu kali mengalami hari yang buruk karena datang terlambat ke sebuah seminar dimana dia harus berceramah soal manajemen waktu. Cerita buruk belum berakhir, karena di hotel tempatnya menginap, Frank dijebak untuk berselingkuh oleh seorang perempuan yang menjadi peserta seminarnya. Beruntung ia bisa meloloskan diri dari situasi yang tak dikehendaki itu. Namun, celakanya, persis ketika Frank berhasil meloloskan dari hotel untuk pulang ke rumah, istrinya, Susan Allen (diperankan Emily Mortimer), menelpon ke kamar hotelnya dan diangkat oleh perempuan yang hendak memperdaya tadi. Kita sudah bisa membayangkan persepsi yang muncul di benak Susan atas suaminya.

Cerita terus memburuk karena dalam perjalanan pulang Frank terjebak pada situasi dimana ia harus mengantar ke rumah sakit seorang perempuan yang hendak melahirkan. Di tengah perasaan kalut, karena terlalu fokus pada pekerjaannya, Frank tak memperhatikan bahwa ia telah memasukan data pribadinya kepada formulir data pasien dari perempuan yang diantarnya. Dan perawat di rumah sakit telah melakukan kesalahan karena telah menganggap bahwa Frank adalah ayah dari bayi yang akan dilahirkan. Sebelum Frank sampai ke rumahnya, perawat di rumah sakit telah menelpon ke rumahnya, yang diangkat oleh Susan, dan mengabarkan kelahiran sang bayi. Bisa dibayangkan, situasi menjadi kian rumit bagi Frank.

Bagi Susan, fakta bahwa di kamar hotel suaminya ada seorang perempuan lain, dan kini ditambah sebuah telepon dari rumah sakit yang mengabarkan bahwa suaminya baru saja memiliki anak dari seorang perempuan lain, dijadikan data bahwa suaminya, Frank, telah berbohong kepadanya selama ini. Dan itu sudah menjadi alasan yang cukup baginya untuk mengusir suaminya dari rumah. Bagi kita, yang menonton film itu, kita tahu persis bahwa narasi yang dialami Frank (N1) tidaklah sebagaimana narasi yang disimpulkan oleh Susan (N3), meskipun Susan menarik kesimpulannya dari fakta dan data yang sungguh-sungguh dialami suaminya.

Persis di situlah kita perlu menyadari bahwa fakta dan data memang tidak bisa berbicara atau menulis narasinya sendiri, karena setiap fakta dan data mengada dalam struktur naratif yang telah menciptakannya. Tanpa pertama-tama memperhatikan struktur naratif yang telah melahirkan fakta dan data itu, penarasian ulang dari fakta dan data tadi bisa jauh panggang dari api.

Oleh karenanya, setiap kali berhadapan dengan survei-survei politik, saya pertama-tama selalu teringat pada nasib buruk yang dialami Frank.


*) Tulisan ini dimuat di http://www.the-geotimes.com/component/k2/narasi-dan-realitas-politik.html.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar