Sabtu, 18 Maret 2023

MANÉH DAN PRASANGKA BUDAYA YANG DANGKAL










Oleh Tarli Nugroho

Saya menilai respon serta ketersinggungan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil atas pertanyaan seorang guru SMK di Cirebon di akun Instagramnya, yang telah membuat sang guru akhirnya jadi kehilangan pekerjaan, adalah bentuk arogansi. Kang Emil telah mengadili pertanyaan guru itu dengan asumsi-asumsi linguistik yang jika kita periksa lebih dalam sebenarnya tidak cukup kuat untuk dipertanggungjawabkan. Bahkan, respon itu secara kultural sangatlah keliru.

Sebelum kita membahas soal linguistik dan kultural tersebut, ada beberapa alasan kenapa saya berpendapat jika respon Kang Emil tadi adalah bentuk arogansi.

Pertama, sebagai pejabat eksekutif tertinggi di Jawa Barat, Kang Emil mestinya paham jika semua ucapan, tulisan, ekspresi emosional, dan bahkan gestur yang diperlihatkannya selalu akan direspon dengan serius oleh jajaran birokrasi di bawahnya. Sehingga, berbeda dengan pembelaan dirinya yang mengklaim tidak pernah memerintahkan pemecatan terhadap guru bersangkutan, dari sisi kelembagaan kita bisa melihat dengan jelas jika aksi pemecatan tadi merupakan bentuk respon birokrasi atas tanggapan yang diberikan oleh gubernur, terlepas dari apakah gubernur memaksudkannya demikian atau tidak.

Jika Kang Emil memang benar-benar tidak memaksudkannya demikian, alih-alih terus berapologi, ia mestinya berusaha untuk menyelesaikan persoalan ini. Misalnya dengan memfasilitasi agar guru yang telah kehilangan pekerjakan itu bisa segera mengajar kembali, baik di tempat kerjanya semula, ataupun di tempat lain yang sesuai dengan kompetensinya.

Kedua, kritik yang disampaikan oleh guru SMK di Cirebon itu sebenarnya jauh dari kata tidak sopan. Apa yang disampaikannya, “Dalam zoom ini, Maneh teh keur jadi gubernur Jabar ato kader partai ato pribadi @ridwankamil???” (ditulis ulang sesuai posting asli), menurut saya justru sangat sopan, karena dilakukan bukan dengan menghakimi (judging), melainkan dengan mempertanyakan (questioning) fakta yang dilihatnya. Dan pertanyaan itu memang pantas untuk dilontarkan.

Kita tahu, jas berwarna kuning bukanlah pakaian yang lazim digunakan oleh pejabat publik dalam sebuah acara resmi. Kang Emil bukan alumni UI yang jas almamaternya berwarna kuning. Sehingga, orangpun pantas bertanya, apa alasan Kang Emil pakai jas kuning saat melakukan zoom bersama para siswa SMPN 3 Kota Tasikmalaya pada hari Selasa, 14 Maret 2023 lalu?!

Meskipun jas itu tak berlogo, atau mengandung kata-kata tertentu, secara semiotik semua orang tentunya paham bahwa warna kuning tersebut tidak dipilih secara acak, melainkan dipakai karena mewakili identitas politik tertentu. Dan poin ini memang pantas untuk dipertanyakan.

Terakhir, yang ketiga, berbeda dengan pandangan Kang Emil, pertanyaan yang disampaikan oleh guru SMK di Cirebon itu justru sangat pantas dilontarkan oleh seseorang yang berprofesi guru. Sebagai guru, ia setidaknya merasa bertanggung jawab untuk melindungi siswa—meskipun mereka bukan siswa sekolah tempatnya mengajar—dari potensi kampanye politik terselubung seorang pejabat publik. Sikap dan keberaniannya melontarkan pertanyaan itu bahkan harus dipuji.

Tanggapan Kang Emil bahwa “Tidak pantas seorang guru seperti itu”, sangatlah tidak tepat. Guru SMK di Cirebon itu justru telah memberi contoh baik kepada para siswanya terkait pentingnya bersikap kritis. Sejak kapan bersikap kritis dianggap sebentuk kejahatan atau perbuatan tidak senonoh?! Bahaya sekali jika anak-anak kita diajari untuk tabu bersikap kritis.

Dari sisi linguistik, yang sejauh ini selalu dijadikan pembenaran oleh Kang Emil atas respon yang diberikannya, kata “maneh” juga bukanlah kata ganti orang kedua yang bersifat kasar. Berbagai kamus bahasa Sunda dengan jelas menunjukkan jika kosakata itu tergolong sebagai bahasa Sunda ‘loma’, alias biasa, atau akrab. Memang, kosakata “maneh” tidak termasuk ke dalam bahasa Sunda halus. Namun, mencapnya sebagai kata yang “kasar” jelas manipulatif dan tidak sesuai dengan praktik berbahasa sehari-hari.

Kitapun pantas bertanya: jika Kang Emil merasa panggilan “maneh” untuk dirinya adalah kasar, dia sebenarnya sedang menempat dirinya sebagai apa?! Pantaskah seorang pejabat publik meninggikan dirinya semacam itu di depan rakyatnya?!

Lalu, ini juga penting, agar Kang Emil tidak tersinggung, rakyat Jawa Barat lantas harus memanggilnya dengan sebutan apa?!

Ketersinggungan Kang Emil secara politik kebudayaan justru buruk bagi kohesi politik Jawa Barat, karena ketersinggungannya itu—maaf—sangat “bias Priangan”. Ia mungkin mengira seluruh wilayah Jawa Barat sama dengan Priangan, terutama secara kultur dan bahasa, sehingga rasa berbahasa orang Bandung akan sama dengan rasa berbahasa orang Cirebon. Padahal, itu adalah asumsi kebudayaan yang sepenuhnya keliru.

Kalau kita membaca buku Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya (Le Carrefour Javanais), menarik untuk memperhatikan bagaimana sejarawan Perancis itu membagi masyarakat pulau Jawa ke dalam tiga entitas kebudayaan, yaitu Sunda, Jawa dan pesisir. Menurut Lombard, masyarakat pesisir pulau Jawa, baik yang bermukim di Jawa Barat, Jawa Tengah, atau Jawa Timur, memang tidak bisa sepenuhnya diidentikan sebagai Sunda atau Jawa. Jadi, meski berada di tengah masyarakat Sunda, orang Karawang, Indramayu, atau Cirebon, misalnya, tidak bisa disamakan dengan orang Sunda pedalaman sebagaimana yang bermukim di Priangan. Begitu juga dengan orang Pekalongan, atau Rembang, tidak bisa disamakan dengan orang Jawa di pedalaman sebagaimana yang bermukim di Solo atau Yogyakarta.

Satu ciri menonjol yang membedakan masyarakat pantai utara pulau Jawa dengan kebudayaan Sunda dan Jawa di pedalaman, menurut Lombard, adalah mereka jauh lebih egaliter. Pada zaman dulu, pesisir memang menjadi pintu masuk persilangan berbagai kebudayaan. Perjalanan sejarah ini kemudian telah membentuk masyarakat pantai utara Jawa sebagai kultur tersendiri, yang meskipun memiliki ciri kesundaan, atau kejawaan, namun kesundaan dan kejawaan itu memiliki perbedaan dengan kebudayaan Sunda dan Jawa yang tumbuh di wilayah pedalaman.

Jadi, bagi telinga Bandungnya Kang Emil, “maneh” mungkin saja terdengar agak “kasar”. Tetapi mungkin tidak demikian halnya bagi masyarakat pesisiran Jawa Barat, seperti Cirebon, atau Karawang. Persis di situ, sebagai pemimpin Jawa Barat mestinya Kang Emil bisa bersikap arif. Nilai rasa bahasa yang dijadikan patokan olehnya untuk menghakimi diksi guru SMK di Cirebon itu bukanlah nilai rasa bahasa yang berlaku universal.

Sepatunya Kang Emil, jelas tidak sama dengan ukuran sepatunya Sabil Fadillah, guru SMK di Cirebon yang kini kehilangan pekerjaannya itu. Sehingga, sebaiknya Partai Golkar juga bersikap bijak dengan berhenti melakukan pembelaan. Mereka perlu segera menyadari bahwa sosok Kang Emil mungkin tidak bisa diorbitkan ke level lebih jauh, jika ia tak berusaha memperbaiki keakraban di tengah masyarakat Jawa Barat yang dalam beberapa hari terakhir telah dirusaknya, meskipun pada mulanya ia sendiri mungkin tak memaksudkannya demikian.

Kenapa Kang Emil bisa dianggap sebagai telah "merusak" keakraban itu? 

Menurut pengakuan Sabil, ia memilih diksi "maneh" itu bukanlah untuk menghina, melainkan justru karena merasa Kang Emil adalah sosok egaliter yang tak pernah berjarak dengan para penggemarnya di dunia maya, di mana ia termasuk salah satunya. Jadi, janganlah keakraban yang sudah terbentuk itu dirusak kembali oleh prasangka-prasangka kebudayaan dan linguistik yang dangkal. 

Wallahu a'lam bish-shawab.

Karawang, 18 Maret 2023

Senin, 13 Maret 2023

INI KAWANKU, MANA KAWANMU?

 

Saya terhitung akrab bergaul dengan Kawanku, sejak masih menjadi majalah anak-anak selevel Si Kuncung, Ananda, Tomtom, Bobo, dan Siswa pada dekade 1980-an, hingga sesudah menjadi majalah remaja sejak manajemennya diambil alih oleh Grup Gramedia pada 1990. Saking akrabnya, saya sampai hapal nama-nama pengasuh yang ada dalam boks redaksinya.
Tepat dua puluh enam tahun lalu, Juli 1990, Kawanku berubah dari majalah anak-anak menjadi majalah remaja awal. Jargonnya yang terkenal waktu itu adalah STIL, alias "Sudah Tidak Ingusan Lagi". Jadilah Majalah Anak-anak Kawanku berubah menjadi Kawanku STIL.
Sewaktu masih menjadi majalah anak-anak, Kawanku pernah memuat cerita "Taras Boulba" karya Nikolai Gogol sebagai cerita bersambung. Dibanding majalah anak-anak lainnya, isi Kawanku memang banyak didominasi oleh karya-karya terjemahan. Meski begitu, saya juga pernah membaca cerita karya Ipe Maarouf di sana. Belakangan saya baru tahu jika Ipe ternyata adalah seorang pelukis.
Dulu, antara tahun 1990 hingga 1994, seluruh edisi Kawanku saya koleksi. Sayangnya, saat ditinggal kuliah ke Yogya, koleksi itu tak terurus lagi, sehingga jejaknya hilang entah kemana. Karena punya koleksi lengkap itulah saya jadi banyak memperhatikan majalah ini.
Dibandingkan dengan saudaranya, Majalah Hai, Kawanku terhitung senang sekali berganti logo. Hampir setiap tahun Kawanku mengubah logo. Itu juga yang dulu membuat saya menyukai majalah ini. Selain itu, perwajahannya juga atraktif, cepat berubah mengikuti perkembangan, berbeda dengan Hai, Mode, atau Aneka yang monoton. Kalau majalah berita, tata letak Kawanku kurang lebih sama dengan Majalah Jakarta-jakarta yang rame itu, atau seperti perwajahan Forum Keadilan yang cerah dan kontras.
Salah satu penyesalan terbesar saya adalah kehilangan sebuah edisi ulang tahun Kawanku, mungkin tahun 1994, dimana ia mengubah habis logo dan tampilannya pada satu edisi itu. Sayang, perubahan itu kemudian tak diteruskan pada nomor sesudahnya. Itu arsip penting saya kira. Dan saya menyesal tak merawatnya dengan baik.
Berubah menjadi majalah remaja ternyata bukan perubahan terakhir yang dilakukan oleh Kawanku. Majalah itu kemudian berubah lagi menjadi majalah khusus remaja puteri. Itu mungkin terjadi pada 1996, saat saya tak lagi intens mengikuti majalah itu. Hingga hari ini, Kawanku akhirnya menjadi epigon Majalah Gadis, majalah remaja puteri tertua yang diterbitkan oleh Grup Femina.
Kalau mengingat lagi masa dua puluh hingga dua puluh enam tahun silam, saya kira dekade 1990-an adalah periode booming media massa di Indonesia. Hal ini berbeda dengan booming tahun 2000-an yang diisi oleh media asing berbahasa Indonesia. Pada dekade 1990-an, muncul berbagai media untuk berbagai segmen pembaca dan topik. Mulai dari tabloid anak-anak (Fantasi), media khusus dangdut (Tabloid Dang Dut), termasuk berbagai media yang diterbitkan oleh grup bisnisnya Soetrisno Bachir, Ika Muda Grup.
Pada dekade itu pula para penulis cerita memiliki banyak sekali wahana. Jika sebelumnya Anita Cemerlang hampir memonopoli segmen majalah cerita remaja, maka pada dekade itu, misalnya, Majalah Kawanku juga menerbitkan Album Cerita Kawanku.
Ini adalah foto sebagian sisa-sisa koleksi Majalah Kawanku yang masih selamat. Dulu saya pernah punya mimpi membuat semacam rak khusus di rumah yang berisi bacaan-bacaan pertama yang pernah menghidupi saya sejak pertama kali mulai bisa membaca hingga beranjak remaja. Rak itu akan berisi komik-komik Petruk karya Tatang Suhendra, komik-komik superhero Indonesia karya Wid N.S., Kus Br., atau Hasmi, komik-komik silat karya Teguh Santosa atau Jan Mintaraga, komik-komik para nabi yang disusun Musannif Effendie, hingga majalah-majalah mulai dari Si Kuncung, Midi, hingga majalah remaja muslim yang kini sudah tak terbit lagi, Estafet.

Dari rak itu saya akan akan mudah menyampaikan nasihat ini pada anak cucu: "Jangan pernah membuang bacaan-bacaan yang pernah kamu baca. Belajarlah merawat sejarah, meski dari hal-hal sederhana."

17 Juli 2016

ADUH, HAI









Persisnya agak lupa, mungkin kelas empat atau lima, ketika pertama kali mulai bisa menikmati Majalah Hai. Saya membaca Hai sesudah bosan membaca semua majalah anak-anak. Pak Janggut, Paman Kikuk, dan Garfield lama-lama tak lagi memikat seperti saat pertama kali berjumpa. Saya butuh bacaan baru, dan Hai menyediakannya.

Rubrik yang saya sukai pertama kali adalah “Antara Kawan”, yang diasuh Arswendo Atmowiloto; dan komik serial “Roel Dijkstra”, komik tentang sosok fiksi pemain sepak bola profesional Roel Dijkstra, yang sebenarnya diilhami oleh kisah legenda Barcelona Johan Cruyff.
Dari serial Lupus Kecil yang juga ditulis Hilman, saya pun mulai menyukai membaca Lupus remaja dengan aneka skandal asmaranya. Jika oleh Majalah Kawanku saya hanya dicekoki NKOTB (New Kids on the Block), dalam semua edisi, maka melalui Hai saya mulai membaca Europe, Depp Purple, dan lain-lain. Jordan Knight tiba-tiba jadi terlihat kemayu dan tak lagi jantan.
Sayangnya, seperti halnya Kawanku yang telah pamit lebih dulu, Hai juga telah undur diri dari peredaran bulan lalu. Majalah ini telah mati.
Hai pertama kali terbit pada 1977. Ia menggantikan Majalah Midi. Penjaga dapur Midi dan Hai adalah orang-orang yang sama.
Saya tidak punya nomor perdana Majalah Hai, tapi punya nomor-nomor yang berasal dari tahun pertamanya. Dibandingkan dengan Kawanku yang genit dan sering gonta-ganti logo, termasuk gonta-ganti segmen, Majalah Hai relatif tak sering berganti logo dan segmen. Sejak awal ia adalah majalah remaja dengan concern yang kuat terhadap musik. Sesudah Kawanku diambil alih oleh Grup Gramedia, di era kejayaan majalah remaja akhir tahun 1980-an/1990-an, Hai hanya sekali mengubah segmennya, yaitu menjadi ‘Majalah Remaja Pria’, sebuah identitas yang terus dipertahankannya hingga almarhum kemarin.
Logo Hai yang legendaris, dan paling saya sukai, adalah logo dengan garis pantul yang mulai dipakai sejak tahun 1988 (atau 1987?). Mulanya jumlah garis pantul itu tak pernah sama dalam tiap edisi. Baru sesudah tahun 1989, jumlah garis pantul itu diseragamkan.
Saya hanya mengikuti Hai hingga tahun 1995. Edisi terakhir yang saya baca adalah edisi khusus Nicky Astria sebelum lady rocker itu pensiun sesudah dipinang oleh anaknya Solihin G.P. Sesudahnya saya tak lagi mengikuti Hai yang kemudian ganti logo. Sejak 1995, minat saya memang kembali berubah, mulai gandrung pada majalah-majalah berita, kebudayaan, dan majalah-majalah “dewasa” lainnya.
Ketika kuliah, saya pernah iseng membaca sebuah Majalah Hai saat antri di sebuah warnet. Majalah itu segera saja saya lempar. Saya kaget, karena Hai kemudian memilih untuk menggunakan bahasa lisan sebagai gaya bagi seluruh tulisannya. Saya tak lagi menenal Hai yang dulu, yang meskipun tulisan jurnalistiknya renyah, namun masih menggunakan bahasa Indonesia yang bagus. Terus terang saya tidak merasa nyaman dengan pengadopsian bahasa lisan sebagai bahasa tulis tersebut. Membuat capek pikiran yang membaca.
Sejak itu saya tak lagi mengikuti Hai. Namun, ketika membaca kabar bahwa pada akhirnya Hai juga harus tutup buku, mengikuti Kawanku—saudarinya yang telah mati lebih dulu, tak urung saya sempat merasa kehilangan.
Saya telah membaca Hai sejak sebelum remaja, dan mulai berhenti membacanya persis sesudah remaja.
Berikut adalah evolusi logo Hai dari sejak awal terbit hingga edisi terakhirnya.
Selamat jalan, Hai!

25 Juli 2017

GADIS TERAKHIR









Tujuh nomor Majalah Gadis yang terbit antara Januari 2019 hingga Desember 2020 menjadi nomor-nomor terakhir edisi cetak majalah remaja legendaris ini. Di rumah, saya membungkus jadi satu edisi bersejarah ini.

Nah, Hers Protex yang Anda lihat dalam foto adalah bonus Majalah Gadis edisi penghabisan, No. 7, Desember 2020. Bonus itu tetap dipertahankan sesuai bentuk aslinya saat dibeli, melekat di karton khusus di samping majalah. Anda tentu bisa membayangkan, bagaimana wajah saya saat membawa majalah ini ke kasir toko buku bukan?!














"Ya, itu untuk anak gadis saya," ujar saya, dalam hati, saat kasirnya mengerling aneh. #AkuDanMedia

1 Maret 2022

PENANTIAN YANG TERBAYAR: KAWANKU EDISI KEMBAR









Sebagai pembaca setia Kawanku hingga tahun 1994/1995, sebelum majalah ini malih rupa menjadi majalah para gadis, sejak lama saya dihantui oleh pertanyaan ini: kenapa ada dua sampul berbeda untuk edisi perdana Kawanku STIL, yang terbit 16 Juli 1990? Sampul pertama, sebelah kiri, bergambar George Bush. Sementara, sampul kedua, di sebelah kanan, bergambar Senopati Pamungkas.

Kasus edisi kembar semacam ini, dalam dunia penerbitan di negeri kita, biasanya hanya terjadi jika ada sengketa kepengurusan atau kepemilikan media. Kasus ini, misalnya, pernah dialami Majalah Kartini, Horison, atau Forum. Kapan-kapan saya akan pamer edisi-edisi kembar yang pernah bikin heboh di masa lalu. Namun, dua edisi kembar Kawanku ini, terbit bukan karena kasus tersebut, karena keduanya sama-sama diterbitkan oleh manajemen baru Grup Kompas Gramedia.
Lalu, kenapa sampai ada edisi perdana kembar semacam itu?!
Pertanyaan ini dulu begitu mengusik. Ketika saya pertama kali menemukan edisi perdana Kawanku STIL bersampul George Bush pada sekira tahun 2016, pertanyaan itu tak segera berjawab. Jawabannya baru saya temukan tahun lalu, sesudah menemukan nomor-nomor awal Kawanku STIL lainnya secara lengkap. Sesudah membaca kembali edisi-edisi awal itu, soal sampul kembar ini pernah dibahas di rubrik "Halo Bung Daktur", yang berisi surat dari pembaca.
Majalah bersampul Senopati Pamungkas ternyata adalah nomor contoh yang dikirim bagian promosi Kawanku kepada para agen dan pengecer. Sementara, Kawanku STIL yang dijual untuk pembaca adalah yang bersampul George Bush.
Bayangkan, untuk mengetahui jawaban tentang sampul kembar edisi perdana Kawanku STIL ini, saya harus menunggu 26 tahun. Dan pekan lalu, saya beruntung akhirnya bisa menggenapi jawaban tadi dengan memiliki Kawanku bersampul Senopati Pamungkas tersebut, setelah lebih dari seperempat abad mencari dan menanti. Ck ck ck.
Yang jelas, penantian semacam ini pasti lebih dramatis dari cerita layangan putus! Ya, cerita tentang majalah saja ditungguin, apalagi cerita tentang kamu. Iya, kamuuu...

10 Januari 2022

SELAMAT JALAN, KAWANKU















Ini adalah edisi terakhir Majalah Kawanku. Tahun depan, majalah ini tak lagi terbit.

Meski sudah berhenti membaca majalah ini sejak dua puluh satu tahun lalu, saat majalah ini berubah menjadi sejenis Majalah Gadis, tadi pagi saya menyempatkan diri untuk mencari edisi terakhir majalah ini. Bukan apa-apa, ini adalah majalah yang telah menemani saya pada periode awal keranjingan membaca, saat sekolah dasar dulu. Waktu itu Kawanku masih merupakan sebuah majalah anak-anak, sama seperti halnya Majalah Bobo, Ananda, Tomtom, Siswa, dan juga legenda majalah anak-anak Indonesia: Majalah Si Kuncung.
Sesudah diambil-alih oleh Grup Gramedia, pada 1990 Kawanku berubah menjadi majalah remaja awal (baca: ABG), dengan segmen pembaca di atas pembaca Majalah Bobo, tapi di bawah usia pembaca Majalah Hai. Tapi ternyata itu bukan perubahan segmen Kawanku yang terakhir. Sesudahnya, Kawanku berubah lagi menjadi majalah khusus remaja puteri. Sejak saat itu, saya tak lagi mengikuti perkembangannya.
Jadi, inilah edisi terakhir Kawanku. Rubrikasi dan tata mukanya memang tak lagi saya kenal. Tapi tadi pagi, sesudah dua puluh satu tahun silap, saya kembali membeli majalah ini, untuk bahan arsip dan kenangan.
Hormat mendalam untuk para mantan pengelola Majalah Anak-anak Kawanku. Terima kasih sudah menemani masa kanak-kanak yang luar biasa dulu. #AkuDanMedia

22 Desember 2016

EDISI PERDANA KAWANKU









Saya punya hubungan emosional cukup panjang dengan Majalah Kawanku. Hingga duduk di bangku SMP, Kawanku bisa disebut bacaan utama saya. Artinya, yang paling banyak dibaca dibanding majalah anak-anak dan remaja lainnya.

Kebetulan, masa peralihan dari SD ke SMP saya relatif berdekatan dengan perubahan manajemen majalah ini. Jika sebelum tahun 1990 Kawanku berstatus sebagai majalah anak-anak, maka sesudah diambil alih oleh Grup Kompas Gramedia pada akhir 1990, statusnya naik menjadi majalah ABG, alias anak baru gede. Jadi praktis, ketika saya masuk SMP, saya tak perlu mengubah bacaan utama ke majalah lain. Sebagai catatan, hingga tahun 1995, Kawanku masih jadi majalah untuk semua gender, belum berubah jadi majalah remaja putri.
Itu sebabnya, saya merasa bahagia sekali ketika kemarin akhirnya bisa menemukan bundel edisi perdana dan lengkap edisi setahun pertama majalah ini. Rasanya sulit untuk dilukiskan kata-kata.
Kawanku terbit perdana pada bulan Agustus 1970. Pada awalnya majalah ini terbit sebulan sekali, kemudian menjadi dua kali sebulan.
Kapan-kapan, saya ingin bercerita panjang mengenai pengalaman bersentuhan dengan majalah ini. #AkuDanMedia

20 Oktober 2021

BUKU, SEBUAH PERTEMUAN

Jika sedang senggang di rumah, saya berusaha mengumpulkan dan mengingat kembali bacaan-bacaan yang pertama kali dipegang waktu kecil dulu. Cerita-cerita dengan tagar #AkuDanMedia adalah hasilnya. Ke depan, melalui catatan dalam tagar tersebut, saya ingin bernostalgia tentang riwayat pertemuan dengan sejumlah bacaan, mulai dari komik, majalah, koran, tabloid, hingga buku. Kapan saya pertama kali ketemu Kawanku, Hai, Tempo, Panji Masyarakat, Garfield, Teguh Santosa, Iwan Simatupang, Pasternak, dan sejenisnya.

Di tengah pandemi yang memangkas hampir semua interaksi dengan banyak orang, dan sekadar menyisakan urusan-urusan pekerjaan yang tak selalu menyenangkan, saya merasakan penulisan hal-hal semacam ini jadi membangkitkan kembali kegairahan. Mungkin, karena menuliskan kembali hal-hal itu jadi membuat saya tercerabut dari kekinian dan bisa kembali ke masa lalu.
Buku, sama seperti halnya mesin waktu, memang bisa membawa kita pulang-pergi ke masa lalu. Bayangkan, betapa ajaibnya benda itu.

2 Februari 2021

Sabtu, 11 Maret 2023

JAKARTA-JAKARTA DAN UTANG SAYA KE PAK WARDI

 















Oleh Tarli Nugroho

Lelaki paruh baya itu bernama Pak Wardi, atau sebut saja begitu. Sekilas, perawakannya selalu mengingatkan saya pada pelawak Darto Helm. Bagian depan kepalanya botak, dengan rambut tipis beruban di samping dan belakang. Suara baritonnya agak menggelegar. Jika sedang tersenyum, bibirnya akan mengembang, dan matanya menyipit, yang membuatnya jadi mirip Pak Harto. Namun, saat sedang ketus, saya mengingatnya sebagai sosok yang menakutkan. Satu kali saya pernah dihardiknya hanya gara-gara menyilangkan kaki di sofa rumahhya saat sedang numpang menonton televisi. Itu sebabnya, tiap kali jajan permen Cocorico, yang memang hanya dijual di tokonya, saya lebih suka dilayani oleh pembantunya, atau keponakannya, daripada oleh Pak Wardi.
Meskipun tinggal di kampung, penampilannya berbeda dengan penampilan orang kampung pada umumnya, atau orang seumurannya. Di rumahnya, ia selalu bercelana panjang dan memakai singlet. Sangat jarang, bahkan hampir tak pernah, saya melihatnya mengenakan sarung. Namun, yang paling membuatnya terlihat berbeda adalah sebuah kacamata berbingkai tebal yang selalu terkalung di lehernya. Dengan kacamata seperti itu, Pak Wardi bukan hanya terlihat seperti orang kaya, tapi juga terlihat intelek.
Dulu, kalau melihat Pak Wardi memakai kacamatanya, saya selalu membayangkan mungkin demikianlah tampang para profesor di perguruan tinggi yang anekdotnya sering saya baca di majalah-majalah dan koran. Mereka pastilah bertampang dingin dan angkuh seperti Pak Wardi. Terlalu banyak tahu, konon memang seringkali lebih bahyak mendatangkan beban daripada kebahagiaan.
Beberapa kali saya diceritai kakek kalau Pak Wardi adalah orang berpendidikan tinggi. Dia seharusnya menjadi jaksa di ibukota, atau profesi-profesi yang terkait dengan bidang hukum lainnya, kalau saja tidak ada peristiwa 1965. Menurut kakek, Pak Wardi tinggal di kampung kami karena diungsikan oleh ayahnya, Pak Kaning. Waktu itu ia masih mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Jakarta.
Konon, jika tak diungsikan, Pak Wardi mungkin tak akan selamat, atau setidaknya tak mungkin lagi bisa menikmati udara bebas. Saya tak pernah mengingat keterangan yang cukup jelas mengenai apa dan bagaimana status Pak Wardi sehingga harus diungsikan seperti itu. Keterangan semacam itu sebenarnya mungkin pernah saya dengar, namun terlalu rumit untuk dicatat oleh pikiran anak kecil.
Yang jelas, ketika SMA, saya memiliki dugaan kalau Pak Wardi adalah anggota CGMI (Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia). Statusnya yang masih mahasiswa saat pindah ke kampung kami adalah dasarnya. Dugaan ini juga saya sesuaikan dengan keterangan yang didengar belakangan, bahwa Pak Wardi diungsikan karena di kampusnya ia terkait dengan organisasi yang berhubungan dengan PKI. Artinya, ia bukan aktivis partai. Selain CGMI, saya kesulitan mencari kemungkinan status Pak Wardi di masa lalu.
Dugaan jika Pak Wardi termasuk golongan kiri memang bukan sekadar gosip. Saya merasa menemukan buktinya pada Pemilu 1999. Itu adalah pemilu pertama sesudah Reformasi, sekaligus menjadi pemilu pertama yang saya ikuti. Pada saat penghitungan suara, di TPS tempat saya mencoblos Partai Rakyat Demokratik (PRD) mendapatkan dukungan satu suara. Itu adalah satu-satunya suara PRD di TPS kami, dan belakangan diketahui juga merupakan satu-satunya suara PRD di kampung saya.
Di tengah para pemilih yang masih tak beranjak dari Golkar, PPP, dan PDI-P, satu suara untuk PRD tentu saja sangat istimewa. Apalagi, selain 3 partai sisa Orde Baru tadi, partai lain yang bisa mendapatkan suara di desa saya hanya PAN dan PKB. Di TPS saya, PAN hanya dapat 5 suara. Semuanya disumbang oleh keluarga saya.
Ketika nama PRD disebut dalam penghitungan suara, saya segera tahu. Itu pasti suara Pak Wardi, demikian batin saya kala itu. Tak mungkin itu hasil salah coblos, karena PRD mendapatkan persis satu suara untuk masing-masing level perwakilan, mulai dari DPRD Kabupaten, DPRD Provinsi, hingga DPR RI.
Sebenarnya, orang-orang tua di desa saya juga tak tahu apa persisnya organisasi yang pernah diikuti Pak Wardi. Dan saya kira mereka juga tak mungkin menanyakannya. Selain karena naif untuk mengulik hal yang coba disembunyikan itu, juga karena mereka sendiri mungkin tak terlalu ambil pusing. Bagi orang-orang desa, kejahatan politik pada dasarnya bukanlah sejenis kejahatan yang mudah diterima. Jangankan Pak Wardi, yang kesalahannya—kalau memang benar-benar ada—bersifat abstrak, bahkan Waryamin, seorang preman kampung yang dikenal bengis dan kerap merampok pun, karena tak pernah bikin onar dan melakukan kejahatan di kampungnya sendiri, ia tak pernah diusik oleh orang-orang kampung kami.
Ketika dia ditembak mati polisi pada suatu malam di sebuah komplek pelacuran yang hanya berjarak sepelemparan batu dari kantor kepala desa, sebenaranya tak ada orang yang membocorkan keberadaannya. Penangkapan yang berujung eksekusi itu sepenuhnya karena ketelatenan polisi saja. Mereka konon sudah mengintai selama berhari-hari dengan menyamar sebagai tukang mancing. Ketika berhasil mengkonfirmasi buronannya, mereka segera mengepung lokalisasi tempat Waryamin berada. Tetapi lelaki bertato itu tak mau menyerah.
Ia memang punya ilmu kebal. Saya pernah melihatnya dengan mata kepala sendiri. Suatu ketika ia sedang mabuk di warung kopi di sebelah rumah. Entah apa alasannya, ia lalu menyabet-nyabetkan celurit ke tangannya sendiri. Tidak, ia tak menyakiti orang lain ketika itu. Saya lihat, tak ada sedikitpun luka di tangannya. Kesaktiannya memang sering dibicarakan orang.
Namun, saat dikepung malam itu, Waryamin menemui ajalnya. Konon, ia ditembak dengan peluru emas, atau peluru yang sudah dijampi-jampi kyai. Ada juga yang bercerita kalau itu adalah hari apesnya.
Saya ingat, malam itu saya terbangun karena kaget mendengar bunyi ledakan dari seberang sungai. Bunyi ledakan seperti petasan itu terjadi beberapa kali. Tapi, mustahil itu petasan, batin saya kala itu. Siapa orang gila yang menyalakan petasan di tengah malam buta seperti itu? Waktu itu saya duduk di kelas lima. Esoknya, kabar kematian Waryamin jadi pembicaraan semua orang, termasuk teman-teman di sekolah. Ternyata, bunyi ledakan yang saya dengar malam itu adalah suara tembakan.
Kembali ke Pak Wardi, ia adalah anak seorang tuan tanah yang disegani. Sawah dan empangnya sangat luas. Bahkan, bisa dikatakan kalau lebih dari separuh empang di desa saya dulunya adalah tanah keluarga Pak Wardi. Barangkali, ini juga yang kemudian membuat Pak Wardi aman tinggal di kampung saya. Secara ekonomi, ayahnya, yang tinggal di kampung lain, sangat dihormati orang-orang di kampung kami. Jadilah kemudian Pak Wardi penduduk di kampung kami.
Dengan tanah yang luas, serta usaha tokonya yang maju, Pak Wardi kemudian bisa menyekolahkan para keponakannya hingga ke perguruan tinggi. Saat itu, bisa sekolah hingga ke perguruan tinggi sangatlah luar biasa. Saya ingat, jika sedang musim liburan, para keponakannya selalu pulang berlibur di rumah Pak Wardi. Tampang mereka klimis-klimis. Dandanannya juga parlente. Beberapa berstatus sebagai mahasiswa dan mahasiswi, sebagian lainnya masih SMA. Jumlahnya mungkin empat atau lima orang, saat itu.
Tiap pagi, mereka akan menggantikan tugas Pak Wardi menimbangi udang yang dijual para petambak. Pak Wardi hanya akan duduk menyaksikan sembari membaca koran. Saya bisa tahu, karena sebelum berangkat ke sekolah, tiap pagi selalu disuruh kakek untuk menjual udang terlebih dahulu ke rumah Pak Wardi. Melihat mereka yang terlihat ganteng dan cantik itu, kadang muncul rasa iri. Kapan ya, saya bisa bersekolah di kota seperti mereka?!
Pak Wardi sendiri dengan isterinya tak dikaruniai anak. Dari sekian keponakan dan anak saudaranya yang lain yang dibiayai sekolah hingga ke perguruan tinggi, ada satu anak yang mereka adopsi sejak kecil. Namanya, sebut saja Sugandi. Usianya dua tahun di bawah saya. Karena hanya berselisih umur sedikit, sejak sekolah dasar ia menjadi teman sepermainan saya. Ketika saya duduk di kelas tiga sekolah dasar, Gandi duduk di kelas satu.
Anak ini terkenal royal dan boros. Ia sering mentraktir teman-temannya. Apalagi, sejak dini ia sudah memelihara semacam anak buah, yaitu anak-anak seumuran, atau lebih tua darinya, yang akan mengikutinya ke manapun dengan imbalan jajan dan makan gratis. Sehingga, meski uang sakunya besar, saya sering mendengar ia berutang ke orang lain. Urusan uang ini pula yang kemudian mempertemukan saya untuk pertama kalinya dengan Majalah Jakarta-Jakarta.
Ceritanya begini. Ketika duduk di kelas tiga SD, minat baca saya terus berkembang. Jika semula hanya puas membaca komik dan majalah anak-anak, saya kemudian juga mulai membaca majalah-majalah remaja dan dewasa, termasuk koran. “Peningkatan” obyek bacaan itu sebenarnya bukan terutama karena dorongan pribadi, melainkan karena minimnya bacaan yang tersedia.
Saat itu, satu Majalah Bobo, Kawanku, Ananda, Tomtom, atau Siswa, biasanya habis saya baca hanya dalam hitungan jam. Masalahnya, tak setiap hari saya bisa membeli majalah-majalah itu. Pedagang komik dan majalah juga tak setiap hari, bahkan tak setiap minggu mampir ke sekolah. Itu membuat saya jadi sering kehabisan bacaan. Buntutnya, saat sedang “sakau” membaca, saya kemudian jadi membaca apapun. Karena kebetulan ibu berjualan koran bekas kiloan di warung kelontongnya, maka jika sedang kehabisan bacaan, koran-koran itu jadi pelampiasannya.
Biasanya yang saya cari adalah Pos Kota atau koran hari minggu, karena di sana saya bisa menemukan komik, tulisan-tulisan ringan, atau lembaran untuk anak-anak. Koran minggu favorit saya ketika itu adalah Buana Minggu dan Suara Karya Minggu (SKM). Kedua koran itu memang punya tampilan yang catchy di edisi minggunya. Secara fisik, tampilan Suara Pembaruan dan Kompas kalah jauh. Selain banyak memuat gosip selebritas, kedua koran minggu itu kerap memajang foto perempuan-perempuan seksi dengan ukuran besar di halaman pertamanya. Pokoknya, wah!
Koran-koran bekas itu dijual untuk para pedagang nasi, atau tukang gorengan, sebagai pembungkus makanan, atau pelapis daun dan kertas nasi. Ibu sendiri membelinya dalam bentuk bal-balan di pasar. Kurang lebih, tiap bal beratnya sekitar 30 kilogram. Koran-koran itu kemudian dijual kembali dalam bentuk kiloan lebih kecil, yaitu seperempat kilogram, setengah kilogram, dan satu kilogram. Sesudah saya sekolah dan bisa menggunakan timbangan, kurang lebih sejak kelas dua SD, pekerjaan menimbangi koran itu diserahkan pada saya.
Sebenarnya, kalau diingat-ingat kembali, sesudah komik, saya lebih dulu belajar membaca koran daripada majalah, meskipun rubrik yang dibaca memang masih terbatas pada komik, atau lembaran untuk anak-anak. Majalah pertama yang saya baca adalah Majalah Bobo. Dan majalah itupun saya temukan pertama kali ketika sedang menimbangi koran. Sesudah ketemu dengan benda bernama majalah itulah saya jadi keranjingan membaca.
Alasannya sederhana. Isi majalah lebih ringan daripada koran, lebih mudah ditenteng daripada tabloid, dan jauh lebih bervariasi daripada komik. Itulah yang membuat saya keranjingan membaca majalah saat kelas tiga sekolah dasar. Kebetulan, pada saat bersamaan, sekolah saya kerap didatangi oleh pedagang komik dan majalah bekas. Lelaki berperawakan kecil itu tak pernah saya ingat namanya, dan ini sering saya sesali hingga kini. Menilik logat sundanya yang kental dan halus, saya kira ia datang dari tempat yang jauh di girang. Dialah pedagang majalah pertama di sekolah saya.
Selain Bobo, Kawanku, Si Kuncung, serta majalah anak-anak lainnya, ia juga membawa komik-komik terbitan Gramedia, Dian Rakyat, Misurind, dan sejumlah penerbit lain. Di situlah saya pertama kali berkenalan dengan komik-komik berwarna dan berukuran besar seperti Deni Manusia Ikan, Storm, Asterix, Agen Polisi 212, Mimin, Nina, Winnetou, Karl May, atau seri Album Cerita Ternama. Sebelumnya, saya hanya mengenal komik-komik silat, Petruk Gareng, superhero, atau komik-komik H.C. Andersen yang semuanya hitam putih dan berukuran kecil.
Karena majalah dan komik-komik itu bisa saya selesaikan hanya dalam hitungan jam, maka tiap kali si mamang yang jualan datang ke sekolah, saya selalu membeli banyak, sekitar sepuluh atau lima belas biji. Jumlah itu saya anggap cukup untuk mengisi hari-hari saya hingga pedagangnya muncul kembali di sekolah. Rupanya kebiasaan membeli majalah dan komik dalam jumlah besar semacam itu dianggap tidak lazim oleh sejumlah orang. Saya ingat, seorang pedagang nasi di sekolah, yang kebetulan kenal dengan nenek, pernah melaporkan kebiasaan saya memborong bacaan semacam itu seolah itu adalah sebentuk kejahatan. Saya kadang geli jika mengingatnya.
Memang, harga majalah dan komik ketika itu antara Rp100 hingga Rp200 per eksemplar. Sementara, harga sepiring kecil nasi goreng yang dijual di sekolah, misalnya, ketika itu hanya Rp75. Mungkin, karena harga bacaan tadi lebih mahal dari sepiring nasi yang dijualnya, pedagang nasi itu menganggap kebiasaan saya membeli banyak-banyak bahan bacaan sebagai pemborosan. Tapi, saya tidak peduli.
Uang saku saya sendiri ketika itu hanya Rp300. Hingga lulus SD, jumlahnya tak pernah berubah. Saya bisa membeli bacaan dalam jumlah banyak karena tiap hari, setelah membantu ibu di warungnya, saya selalu minta uang seratus atau dua ratus rupiah untuk dikumpulkan. Uang itulah, bersama dengan uang jajan Rp300 dari nenek, yang digunakan untuk belanja majalah dan komik.
Ketika Gandi masuk SD, dia jadi tahu kegilaan saya belanja bacaan di sekolah. Mengetahui hal itu, suatu sore, sepulang sekolah, dia datang ke rumah sembari menyodorkan sebuah majalah.
“Li, di rumahku ada banyak majalah seperti ini. Kalau kamu tertarik, aku mau menjualnya,” ujarnya.
Saya menerima majalah itu dengan antusias. Sampulnya seorang prajurit Amerika sedang diseret seorang rekannya. Di sampulnya yang rame dengan tulisan, yang mengingatkan saya pada sampul Majalah Kawanku Stil yang baru saja terbit dan iklannya sering saya lihat di koran-koran bekas, semua judul tulisannya diakhiri tanda seru. Nama majalah itu Jakarta-Jakarta. Terus terang, saya belum pernah melihat majalah seperti itu sebelumnya.
Namun, yang membuat saya segera tertarik pada majalah itu adalah tanggal terbitnya. Saat Gandi membawa majalah itu ke rumah saya, waktunya hanya berselang dua minggu sesudah majalah itu terbit.
“Wah, akhirnya bisa baca majalah baru,” batin saya, senang.
Bukan apa-apa, hingga sejauh itu, semua majalah yang pernah saya baca memang berselisih minimal tiga atau empat tahun ke belakang tanggal terbitnya. Sehingga, bisa membaca majalah yang hanya berselang belasan hari sejak terbit, rasanya jadi luar biasa. Ada rasa senang yang tiba-tiba membuncah saat mengalami hal itu.
Perasaan semacam itu belakangan terulang kembali saat saya duduk di bangku SMP. Sekolah saya ternyata dijangkau oleh tukang koran keliling, sehingga untuk pertama kalinya saya jadi bisa merasakan membaca koran persis pada tanggal terbitnya. Rasanya luar biasa.
Perasaan senang semacam itu mungkin terasa aneh untuk mereka yang sejak lahir telah hidup di pusat-pusat peradaban. Namun, kalau Anda lahir dan tumbuh di daerah pinggiran, percayalah, momen-momen kebahagiaan semacam itu memang benar-benar bisa terjadi.
Soal isi Jakarta-Jakarta, ketika itu sepertinya saya tak hirau benar. Apa sih yang bisa dipikirkan anak kelas tiga SD dari majalah seperti Jakarta-Jakarta? Saya memang tahu sedang ada Perang Teluk nun jauh di sana dari berita radio dan juga acara Dunia Dalam Berita yang ditonton di rumah Gandi. Saya tahu Presiden Irak bernama Saddam Husein. Namun, saat membuka-buka majalah itu, tulisan yang terasa dekat hanyalah mengenai Steven Seagal yang filmnya pernah ditayangkan RCTI itu.
Tanpa pikir panjang, saya setuju untuk membeli majalah-majalah itu. Awalnya Gandi menawarkan harga tinggi, Rp300. Tapi kemudian dia setuju untuk menjualnya seratus rupiah saja per majalah. Yang menyenangkan adalah Gandi berjanji akan rutin membawa majalah-majalah baru yang sudah selesai dibaca ayahnya, Pak Wardi. Saya tentu saja senang mendengarnya.
Pak Wardi memang rutin pergi ke kota. Bahkan, hampir tiap minggu. Kebanyakan, sepertinya untuk keperluan belanja isi tokonya. Setiap kembali dari kota itulah ia selalu membawa sejumlah koran atau majalah yang baru terbit, majalah-majalah yang kemudian dijual Gandi kepada saya. Agar tidak ketahuan, saya menyuruh Gandi menjualnya sesudah lebih dari satu minggu. Kalau masih seminggu, atau kurang dari itu, takutnya masih dicari oleh ayahnya. Gandi menuruti saran itu.
Belakangan, saya tahu kalau majalah yang dibeli Pak Wardi bukan hanya Jakarta-Jakarta, atau Majalah Kartini serta Femina untuk isterinya, tapi juga Majalah Tempo serta majalah-majalah berbahasa Inggris. Namun, ketika itu saya lebih menyukai Jakarta-Jakarta daripada Tempo. Sebab, selain lebih berwarna, porsi untuk fotonya juga lebih besar daripada porsi teksnya. Saya jadi seperti menonton berita kalau memegang majalah tersebut.
Hubungan jual beli majalah berita antara saya dengan Gandi berjalan terus hingga saya lulus SD. Setelahnya, saya kebetulan melanjutkan sekolah ke kecamatan yang agak jauh, yang mengharuskan saya indekos. Hanya dua minggu sekali, atau sebulan sekali, saya bisa pulang ke rumah. Ketika SMP itulah, seperti sudah disinggung, saya mulai berlangganan koran dan majalah sendiri. Bacaan saya jadi lebih up to date dibanding Pak Wardi, karena tiap hari saya membaca koran baru.
Saya ingat, entah bagaimana ceritanya, yang jelas ketika SMP itulah tiap kali saya sedang pulang ke rumah, Pak Wardi sering mampir ke rumah kakek, tempat saya tinggal. Selain ngobrol ke sana ke mari dengan kakek, ia mulai meminjam bacaan-bacaan yang saya bawa pulang. Ketika itu saya memang sudah rutin membaca Tabloid Paron, Tabloid Aksi, Tabloid Adil, dan juga Majalah Forum. Untuk koran, hampir semua koran nasional yang dibawa tukang koran langganan, juga saya langgani, mulai dari Kompas, Republika, Merdeka, hingga Media Indonesia. Setiap liburan, bacaan-bacaan itu saya bawa pulang. Pak Wardi merasa senang bisa meminjam bacaan-bacaan itu.
Ketika saya diterima kuliah di UGM, Pak Wardi adalah satu-satunya orang bukan anggota keluarga yang sangat gembira menerima kabar itu. “Akhirnya ada anak kampung sini yang bisa kuliah,” ujarnya. Selama saya kuliah, tak banyak percakapan yang saya ingat dengan Pak Wardi. Satu-satunya percakapan yang saya ingat adalah ketika dia meminta saya mampir ke rumahnya dan kami ngobrol hingga berjam-jam lamanya.
Alasan dia meminta saya mampir benar-benar tak terbayangkan. Saya waktu itu baru saja ditinggal kawin oleh pacar yang kebetulan orang sekampung. Pak Wardi mengaku sangat khawatir hal itu akan mempengaruhi studi saya. Saat mendengar pengakuannya itu, selain terharu—karena merasa diperhatikan, saya kontan tertawa terbahak-bahak.
Tentu saja saya berterima kasih kepadanya karena sudah memperhatikan. Namun, saya menjelaskan kalau sejujurnya peristiwa itu tak punya pengaruh besar apapun. Justru saya jadi merasa sangat ringan ketika itu.
Melihat ekspresi saya yang tak dibuat-buat, Pak Wardi terlihat lega. Dia kemudian bercerita mengenai sesuatu yang juga saya dengar dari orang lain. Ceritanya membuat saya kian lega. Sesudahnya, kami ngobrol kesana kemari, tentang politik, ekonomi, dan juga Pram.
Meskipun sempat terpikir untuk bertanya mengenai masa lalunya, hal itu kemudian saya urungkan. Saya lihat, Pak Wardi begitu menikmati percakapan kami. Saya tidak ingin merusaknya. Sebab, siapa tahu, hal itu mungkin bukan hal yang ingin ia ceritakan kembali. Ya, siapa yang tahu?!
Beberapa pekan setelah saya kembali ke Yogya, adik saya mengabari kalau Pak Wardi berpulang. Ketika mendengarnya, tiba-tiba saya merasa sangat sedih. Tanpa sepengetahuannya, ia telah ikut menyumbang bacaan-bacaan yang kemudian menghidupi saya. Dia pergi sebelum saya sempat mengucapkan terima kasih, atau membuat “pengakuan dosa” atas kontrak jual-beli majalah antara saya dengan anaknya.
Sekira dua tahun yang lalu, Sugandi juga telah pergi menyusul ayahnya. Menurut adik saya, ia tiba-tiba jatuh pingsan saat sedang bekerja shif malam. Sebelum sampai di rumah sakit, nyawanya tidak tertolong. Kata dokter, ia terkena serangan jantung. Karena sedang berada di luar kota, saya tak sempat mengantarkannya ke pemakaman.
Hingga kini, setiap kali saya melihat Majalah Jakarta-Jakarta No. 240, 2-8 Februari 1991 ini, saya akan selalu teringat kembali pada almarhum Pak Wardi dan Sugandi. Ini adalah Majalah Jakarta-Jakarta yang pertama kali saya baca, dan majalah ini sampai ke tangan saya melalui keduanya.
Semoga Allah mengasihi keduanya. #AkuDanMedia

1 Februari 2021

MISTERI HILANGNYA SENOPATI PAMUNGKAS













Oleh Tarli Nugroho

Ketika manajemen Majalah Kawanku diambil alih oleh Gramedia pada tahun 1990, majalah anak-anak ini membangun segmen baru yang berbeda dengan Bobo, Ananda, Siswa, atau Tomtom. Pembaca Kawanku adalah mereka yang tak lagi bisa menikmati Bobo, namun masih terlalu muda untuk membaca Hai. Ia menyasar segmen yang kemudian dikenal sebagai ABG, alias Anak Baru Gede, yaitu anak-anak usia belasan tahun awal yang umumnya duduk di bangku kelas enam SD hingga kelas tiga SMP. Pada umumnya mereka memang tak lagi mau dianggap sebagai “anak-anak”.

Majalah Kawanku versi baru ini, mem-branding dirinya sebagai “Kawanku STIL”. Kata “STIL” merupakan akronim dari “Sudah Tidak Ingusan Lagi”, sesuai segmen usia pembaca yang dibidiknya. Jika dibaca, kata “STIL” ini berasosiasi kuat dengan kata “Style”. Kawanku kini kian “stylish”, atau bergaya. Branding ini, menurut saya sangat kuat dan cerdas.

Majalah Kawanku versi baru nomor perdana, 1990.



Pengalaman saya sendiri, sejak duduk di bangku kelas 5, membaca dongeng, legenda, atau cerita pahlawan, yang lazim mengisi halaman majalah anak-anak, memang sudah mulai terasa membosankan. Saya ingin sebuah bacaan baru yang berbeda. Ketika itu saya mulai tertarik membaca cerpen-cerpen romantis, traveling dan petualangan. Di situlah saya ketemu Majalah Aneka Ria, Anita Cemerlang, termasuk Majalah Kawanku dalam versi baru.
Aneka dan Anita sebenarnya usia pembacanya satu segmen dengan Hai. Namun, bagi pembaca kanak-kanak seperti saya, membaca cerita remaja, sebagaimana yang mendominasi halaman Majalah Aneka dan Anita di awal tahun 1990-an, jauh lebih menarik perhatian daripada membaca artikel-artikel yang membahas persoalan remaja. Itu sebabnya, saya baru bisa menikmati Hai, dengan ulasan-ulasan musiknya yang memikat itu, agak belakangan sesudah mulai bosan dengan Kawanku, Aneka dan Anita.
Sesudah diambil alih Gramedia, Kawanku mencoba mengkopi resep keberhasilan Arswendo di Majalah Hai. Wendo memang arsitek penting di balik kesuksesan Hai dan sejumlah media yang diterbitkan Gramedia lainnya. Di Kawanku, ia didapuk menjadi Wakil Pemimpin Umum dan Wakil Pemimpin Perusahaan. Di tangan Wendo, Kawanku ikut menjual Lupus dan cerita Senopati Pamungkas, yang menjadi trade mark Majalah Hai di awal tahun 1980-an. Bahkan, rubrik tebak-tebakan di Majalah Hai, yaitu “Antara Kawan”, juga diboyong ke Kawanku menjadi rubrik “Asbak”, alias “Asal Tebak”. Saya pernah mengirim satu kali tebak-tebakan di Majalah Kawanku saat kelas 6 sekolah dasar. Tapi tidak dimuat.
Tentu ada sedikit modifikasi dalam resep-resep yang ditiru tadi. Jika Majalah Hai memuat Senopati Pamungkas sebagai cerita serial, maka Kawanku memuatnya sebagai komik, dengan ilustrator Teguh Santosa. Dan, jika Hai memuat Lupus sebagai anak SMA, maka di Majalah Kawanku Si Lupus-nya masih SMP. Keriuhannyapun seputar kebengalan anak SMP.
Sebagai penikmat komik-komik Teguh Santosa di Majalah Ananda, kehadiran komik Senopati Pamungkas di Kawanku tentunya segera memikat saya juga. Dua rubrik ini, yaitu komik Senopati Pamungkas, dan juga Lupus, bahkan bisa disebut merupakan mantra pemikat untuk merebut pembaca pertama Majalah Kawanku versi baru ini.

Iklan Kawanku yang menggunakan Senopati Pamungkas
sebagai nilai jual.

















Sayangnya, sesudah terbit beberapa edisi, komik Senopati Pamungkas tiba-tiba menghilang dari Majalah Kawanku. Dulu, hilangnya komik ini sangat membingungkan saya. Sebagai pembaca yang hanya bisa menikmati majalah-majalah ibukota dari tukang majalah bekas, saya tak bisa menemukan keterangan kenapa komik ini tiba-tiba putus di tengah jalan.
Kita tahu, pada awal 1990-an, cerita Senopati Pamungkas telah mulai dibukukan menjadi novel berjilid-jilid tebalnya. Iklan penerbitannya juga menghiasi nomor-nomor awal Kawanku versi baru. Lha, tapi kok komiknya putus begitu saja sebelum tamat?!
Puluhan tahun kemudian, sesudah saya tak lagi kanak-kanak, saya baru mengerti jika hilangnya komik Senopati Pamungkas dari Majalah Kawanku STIL terjadi sebagai efek kasus Monitor. Kasus Tabloid Monitor bukan hanya menjadikan Arswendo sebagai pesakitan, melainkan juga berimplikasi pada pencopotan dirinya dari berbagai jabatan dan posisi di Grup Gramedia. Dan ternyata bukan hanya itu. Komik yang diangkat dari karya Arswendo di Majalah Kawanku juga ikut digusur. Oalah
Ketika saya bisa memiliki kembali edisi lengkap setengah tahun pertama Majalah Kawanku STIL, saya baru tahu komik Senopati Pamungkas mulai hilang di Majalah Kawanku No. 16, 29 Oktober 1990, yang sampul depannya Richard Dean Anderson, pemeran utama serial televisi MacGyver. Nomor ini terbit sepekan sesudah Tabloid Monitor dibredel. Sesudah saya telusuri, hilangnya komik Senopati Pamungkas dari Majalah Kawanku ini memang tanpa keterangan sama sekali. Di Majalah Kawanku No. 17, secara bersayap redaksi memang sempat menyinggung soal “mendung itu kelabu”.
Saya yakin, ketika itu sebenarnya ada banyak sekali surat pembaca yang pastinya mempertanyakan kenapa komik Senopati Pamungkas tak lagi dimuat Kawanku. Namun, sejauh yang bisa saya periksa dari koleksi Kawanku yang ada di rumah, surat semacam itu tak ada satupun yang pernah dimuat. Senopati Pamungkas benar-benar menghilang tanpa keterangan.
Kadang saya berpikir begini. Apa yang dilakukan Wendo dengan angketnya di Tabloid Monitor dulu memang sangat ceroboh. Tetapi, apakah perlu ia diperlakukan semacam itu oleh korporasi yang telah menikmati hasil dari jerih payah dan tangan dinginnya? #AkuDanMedia

16 Juni 2021